Google

Indonesia Tax Consultant Services


Indonesia Tax Consultant Services
Indonesia Tax Consultant Services
Indonesia Tax and Accountancy Consultant Services

Call 021-73888872
Email : cheriatna@gmail.com
Office : Jl.Mawar 36 Bintaro Jakarta Selatan 12330

Wednesday, September 5, 2007

Investor AS Keluhkan Masalah Pajak

Investor AS Keluhkan Masalah Pajak

Delegasi Kadin Amerika Serikat (AS) untuk Asean mengungkapkan sejumlah hambatan investasi di sektor perpajakan dan regulasi, Antara lain, terkait pajak penjualan barang mewah (PPnBM) untuk industri otomotif dan UU Penanaman Modal.

Presiden Direktur Ford Motor Indonesia Richard Baker mengatakan, Ford sudah lama berinvestasi di Indonesia, namun penetapan PPnBM berdasarkan besaran cc kendaraan maupun badan mobil menjadi kendala bagi mereka. "Sebesar 43% penjualan kami di Indonesia terhambat adanya ketetapan PPnBM berdasarkan body style dan cc mesin," kata Baker dalam dialog Misi Bisnis AS untuk Asean dengan Menko Perekonomian Boediono di Jakarta, Senin (9/ 10). Pertemuan tersebut diikuti oleh 35 orang perwakilan dari perusahaan-perusahaan besar di AS.

Dia mengungkapkan, perusahaan otomotif yang berinvestasi di Indonesia ingin menjadikan Indonesia sebagai basis ekspornya. Oleh karena itu, Baker berharap, pemerintah mengurangi PPnBM atau menerapkannya sesuai dengan harga ritel dari mobil yang dijual. "Kalau mau mengenakan pajak terhadap mobil, sebaiknya dikenakan berdasarkan nilai ritel mobil tersebut, sehingga tidak perlu khawatir ada pajak lagi terhadap besaran mesin mobil atau bentuk badan mobil tersebut," tuturnya. Dia berharap, pemerintah bisa mempertimbangkan usulan tersebut, karena pengu

rangan PPnBM bisa memberikan multiplier effect yang lebih besar. Jika PPnBM lebih ringan, harga mobil akan lebih murah, sehingga lebih banyak mobil yang terjual. Dampaknya, pemerintah pun akan menerima pajak dalamjumlah yang lebih besar. Baker mengaku, penjualan mobil tahun ini cukup seret. Namun seiring dengan penurunan suku bunga kredit, dia memperkirakan penjualan mobil nasional akan mencapai 350 ribu-40O ribu unit sebagaimana diperkirakan Gaikindo.

Ketua Kadin AS untuk Asean Matthew P Daley menambahkan, konsumen akan lebih leluasa membeli mobil jika PPnBM berdasarkan nilai ritel kendaraan, bukan spesifikasi teknisnya. "Memang ada pemikiran yang mempertanyakan tarif PPnBM, seringkali menurunkan pajak akan merangsang kenaikan penjualan dan akan meningkatkan penerimaan bagi pemerintah," ujar Daley. Menurut dia, total penerimaan pajak akan meningkat jika tarifnya diturunkan, sehingga industri dan masyarakat pun mendapatkan stimulus ekonomi.

Menanggapi hal tersebut, Boediono mengatakan, pihaknya akan meneruskan permintaan investor AS mengenai PPnBM kepada menteri keuangan. "Saya tidak bisa memberikan detail mengenai PPnBM, nanti saya sampaikan ke menkeu. Tampaknya, klasifikasi ini memang sudah berjalan selama satu dekade," ujar Boediono.

RUU Penanaman Modal Pada kesempatan tersebut, Wakil Presiden Direktur Hubungan Internasional dan Kebijakan Publik Time Warner Hugh Stephens mempertanyakan investasi dibidang media massa di Indonesia.

"Industri kami punya peranan penting, karena menggunakan banyak teknologi baru dan konten lokal. Terkait revisi UU Penanaman Modal, kami ingin tahu, karena investasi di bidang media masih tertutup bagi kami," ujar Stephens. Time Warner merupakan salah satu raksasa media di AS, bisnisnya mencakup AOL, HBO, Time Warner Cable, Turner Broadcasting System, New Line Cinema, Warner Brothers Entertainment, dan penerbit Time Inc. Dia berharap pemerintah mengkaji kemungkinan dibukanya sektor media massa bagi investasi asing.

Baker menambahkan, RUU Penanaman Modal harus segera diselesaikan agar Indonesia memiliki peraturan yang kompetitif. "Indonesia akan menarik investasi asing, kalau tidak ada UU Penanaman Modal yang kompetitif, akan makin sulit bagi Indonesia untuk bersaing dengan negara-negara tetangganya," tuturnya.

Minat Investasi Daley juga menyebutkan, kunjungan Kadin AS untuk Asean ini merupakan kelanjutan dari kunjungan Wapres Jusuf Kalla ke AS beberapa waktu lalu. "kami membicarakan soal proses untuk meningkatkan investasi dan lapangan kerja di Indonesia sehingga ekonomi Indonesia bisa lebih terakselerasi.

Ada beberapa perusahaan yan belum pernah masuk Indonesia atau pernah masuk tetapi kemudian keluar lagi, berminat investasi di Indonesia, seperti Marathon Oil, AES, dan lain-lain," jelas Daley.

Dia mengatakan, kunjungan ini mengikutsertakan delegasi AS dari sektor industri teknologi informasi dan komunikasi, mineral, perminyakan, otomotif, kelistrikan, dan lokomotif. "Ada perusahaan lokomotif yang menawarkan untuk membuat pabrik lokomotif di Indonesia daripada Indonesia mengimpor," lanjutnya.

Dia menambahkan, salah satu alasan delegasi AS datang ke Indonesia adalah untuk mengetahui prioritas pemerintah. Daley sangat mendukung prioritas pemerintah di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Dia juga menegaskan, perusahaan-perusahaan AS akan ikut serta dalam Infrastructure Summit II yang akan digelar November mendatang.

Boediono mengatakan, pemerintah telah memberikan informasi terkini mengenai perkembangan ekonomi Indonesia kepada delegasi AS. "Kami akan menyederhanakan perpajakan dan perizinan yang memberatkan mereka. Minat mereka cukup tinggi. Komitmennya memang bukan kepada saya, tetapi mereka melihat sektor-sektor mana yang bisa dimasuki," tuturnya, (rie/han)

Sumber : Investor Daily Indonesia, 10 Oktober 2006

No comments:

Google
Google Groups
Forum Melilea Indonesia
Visit this group
Share on Facebook
Kata-kata Hikmah..! Jelang Pemilu, Jangan Golput ! Di Pemilu 2009