Google

Indonesia Tax Consultant Services


Indonesia Tax Consultant Services
Indonesia Tax Consultant Services
Indonesia Tax and Accountancy Consultant Services

Call 021-73888872
Email : cheriatna@gmail.com
Office : Jl.Mawar 36 Bintaro Jakarta Selatan 12330

Saturday, September 8, 2007

Semoga Tak Sekadar Syarat

Semoga Tak Sekadar Syarat

Belum semua instansi di lingkungan Departemen Keuangan memiliki majelis etik Departemen Keuangan memperketat tali disiplin para aparaturnya.

Sekarang, hampir semua direktorat jenderal memiliki majelis etik yang siap bertindak menjadi pengawas. Harapannya, aparat Depkeu tidak bisa bersikap kurang ajar.

Umar Idris, Arief Ardiansyah, Lamgiat Siringoringo Seiring kenaikan tunjangan gaji yang mereka terima, para pegawai di lingkungan Departemen Keuangan mesti lempeng dalam bekerja. Segepok kode etik menjadi rambu-rambu mereka. Itu menjadi "ongkos" at,as perbaikan kesejahteraan mereka. Sebagai induk instansi "basah" seperti di Direktorat Pajak dan Bea Cukai, pegawai Depkeu sering mendapat tudingan suka main petak umpet aturan.

Upaya penegakan disiplin itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29 yang terbit Maret 2007. Peraturan bertajuk Peningkatan Disiplin PNS di Lingkungan Departemen Keuangan itu menetapkan berdirinya majelis kode etik di tiap direktorat jenderal sebagai pengawas pelaksanaannya.
Para atasan, sih, berjanji siap main pecat Setelah peraturan itu lahir, sekarang hampir semua direktorat di lingkungan Depkeu memiliki kode etik plus majelis kode etik. "Hampir semua sudah memilikinya. Memang seharusnya seperti itu," kata Herry Purnomo, Dirjen Perbendaharaan Negara. "Mungkin di tempat saya yang terbaru, tapi saya lupa tanggal persisnya'," kata Herry merendah.

Direktorat yang dipimpin oleh Herry banyak bertugas mencairkan'pengeluaran uang APBN. Makanya, jangan heran kalau kode etik yang mereka susun banyak berisi klausul yang berkaitan dengan pelayanan kepada pemda atau perusahaan yang ingin mencairkan uang dari APBN. "Misalnya, tidak boleh mempersulit, meminta uang, atau tindakan lain yang membuat pelayanan tidak beres," ungkap Herry.
Dia berjanji kalau sampai ada aparat yang melakukan pelanggaran berat, seperti merugikan negara dan merusak nama baik departemen, instansinya tak akan segan-segan memecat mereka.

Selain Ditjen Perbendaharaan Negara, Direktorat Jenderal Pajak sudah lebih dulu memiliki kode etik dan majelis etik, yakni sejak Juli lalu. Sebenarnya, lembaga yang sekarang dipimpin oleh Darmin Nasution itu telah memiliki kode etik sejak 2002. Namun, banyak panduan sikap yang belum tercantum di dalamnya. "Kode etik yang baru sekarang juga mengatur hal-hal yang selama ini tidak tertulis," kata Djoko Slamet. Suryoputro, Direktur Pelayanan, Penyuluhan, dan Hubungan Ma" syarakat Dirjen Pajak.

Di dalam kode etik yang baru, misalnya, aparat pajak dilarang menyalahgunakan data maupun informasi perpajakan. Asal tahu saja, saat ini Direktorat Jenderal Pajak memiliki data tentang wajib pajak yang potensial untuk dijual kepada pihak lain.

Lain lagi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Kode etik direktoralrjenderal ini sudah lahir sejak tahun 2006, sebelum adanya keputusan Menkeu. Kode etik yang masih dipegang sampai sekarang mengatur layanan di kepabeanan dan cukai. "Bahkan, menurut kode etik kami, membiarkan pelanggaran juga termasuk sebuah pelanggaran," kata Anwar Suprijadi, Dirjen Bea dan Cukai.

Cuma, sampai sejauh ini para penjaga gerbang ekonomi negara ini belum memiliki majelis etik seperti yang anjuran Menkeu. Menurut Anwar, pihaknya masih memakai pola lama dalam pengawasan terhadap para aparaturnya. "Sekjen dan Irjen masih bertugas" mengawasi," kata Anwar.
Meskipun begitu, Anwar mengatakan akan segera membentuk majelis etik sesuai peraturan menteri keuangan yang baru. "Ini masih transisi. Kami masih memproses pembentukan majelis etik," kata Anwar.

Walau begitu, tak berarti terbuka peluang lebar bagi aparat Bea Cukai untuk kurang ajar. Semenjak menjadi dirjen, Anwar sudah memecat beberapa anak buahnya. "Sudah ada empat orang yang .terkena sanksi pemecatan," kata Anwar. Kok, cuma segitu? Q

No comments:

Google
Google Groups
Forum Melilea Indonesia
Visit this group
Share on Facebook
Kata-kata Hikmah..! Jelang Pemilu, Jangan Golput ! Di Pemilu 2009